Telp. (031) 5920948 Emailinfo@fkm.unair.ac.id

UNAIR NEWS – Para mahasiswa Universitas Airlangga tak segan membagi waktu belajarnya demi mengembangkan kemampuan lain di luar akademik. Buktinya, tak sedikit dari mahasiswa itu berhasil meraih prestasi di ajang kejuaraan olahraga, putri-putrian, pertukaran mahasiswa hingga konferensi internasional.

Mahasiswa S-2 Fakultas Kesehatan Masyarakat, Nurhasmadiar Nandini, menceritakan pengalamannya saat berada di Brunei Darussalam untuk keperluan penelitian. Diar, sapaan akrabnya, mengikuti program Research Exchange di Universitas Brunei Darussalam beberapa waktu lalu.

Selama di Brunei, ia banyak belajar tentang pelayanan kesehatan di negara beribukota Bandar Seri Begawan. Selain itu, mahasiswa Administrasi dan Kebijakan Kesehatan itu berkolaborasi dengan peneliti di negeri minyak untuk menghasilkan publikasi riset di jurnal internasional bereputasi.

“Di sana, saya juga memiliki supervisor. Jadi, keikutsertaan dalam program pertukaran itu tidak hanya berhenti saat penelitian selesai, tetapi juga bisa dikembangkan untuk keperluan membangun networking (jejaring),” tutur Diar, sapaan akrabnya.

Selain Diar, ada pula cerita dari Negeri Kincir Angin. Mahasiswa program studi S-1 Manajemen, Evelyn Rahmadanti Darminto, bercerita tentang pengalamannya selama di Belanda. Menurutnya, kegiatan-kegiatan selama mengikuti pertukaran mahasiswa menjadi pengalaman tak ternilai.

Di Belanda, ia belajar mengaktualisasi diri. Ia berani berinteraksi dengan sesama mahasiswa, dosen, termasuk mengutarakan pendapat di saat kuliah berlangsung.

“Nilai terbesar yang kita dapatkan ketika exchange adalah aktualisasi diri. Dulu, saya nggak berani ngomong ini itu. Tapi, percayalah, Evelyn dulu dan sekarang sudah berbeda. Thanks (terima kasih) UNAIR sudah memberikan saya kesempatan untuk menjadi berani beraktualisasi,” terang Evelyn, peserta Fontys University Exchange Program.

Bahkan, ia mengaku ingin mendapatkan kesempatan lagi untuk mengikuti pertukaran mahasiswa. “Saya ingin kembali lagi ke sana. Sebab, selama mengikuti pertukaran, saya lebih menghargai waktu bahwa satu menit bisa mengubah segalanya,” imbuh Evelyn.

Pengembangan aktualisasi diri juga dirasakan oleh Erwin Chandra, mahasiswa peraih medali emas dalam ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) tahun 2016. Bedanya, Erwin merupakan mahasiswa yang getol untuk berinovasi untuk mengembangkan produk.

Di ajang PIMNAS tahun lalu, Erwin mengusung gagasan alat uji kandungan merkuri. Tahun ini, Erwin beserta timnya tengah mengembangkan bubur berbahan kacang komak untuk penderita diabetes.

“Sebagai mahasiswa, kita tidak hanya pintar di teori. Kita seharusnya juga membuat masyarakat untuk merasakan teori yang kita miliki melalui produk yang kita buat,” cerita mahasiswa Fakultas Farmasi ketika ditanya soal motivasi.

Ditanya soal membagi waktu antara kesibukan akademik dan mengembangkan kemampuan non teknis, tak ada habisnya. Para mahasiswa itu tak memberi jawaban pasti tentang kiat pembagian waktu. Namun, mereka berpendapat bahwa kegiatan akademik dan non akademik, harus tetap dijalankan.

Peraih medali emas cabang olahraga Ski Air dalam Pekan Olahraga Nasional XIX, Guruh Dwi Samudra, punya jawabannya. Guruh mengatakan, ia tak pernah lupa terhadap pesan yang pernah disampaikan orang tuanya.

“Latihan olahraga itu utama, tetapi belajar itu tetaplah yang pertama,” tutur Guruh yang juga Cak Surabaya tahun 2017.

Selain keempat mahasiswa, ada pula enam mahasiswa berprestasi lainnya yang bercerita tentang pengalaman menariknya selama berkuliah di UNAIR. Mereka berbagi cerita dalam acara “Parents Gathering: Peran Orang Tua dalam Mendukung Budaya Akademik” yang digelar di Aula Amerta Kantor Manajemen UNAIR, Sabtu (19/5).

Penulis: Defrina Sukma S